Sunday, May 30, 2021

BRILink: Masyarakat Makin Jarang Pergi ke Kantor Bank

Agen BRILink menyediakan layanan keuangan tanpa kantor (branchless banking) terbukti mendukung keuangan inklusif di tengah masyarakat. Keberadaannya telah mengurangi transaksi di jaringan kantor konvensional milik Bank BRI.

Hingga akhir tahun 2019, tercatat transaksi di kantor cabang BRI menjadi 10,1 persen dari seluruh total transaksi atau turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,9 persen. 


Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto menjelaskan, salah satu faktor yang membuat masyarakat kian jarang bertransaksi di kantor cabang BRI di antaranya pesatnya pertumbuhan transaksi menggunakan e-channel BRI, salah satunya Agen BRILink yang mencapai 422.160 agen di seluruh Indonesia. "Hingga akhir tahun 2019, jumlah transaksi finansial Agen BRILink mencapai 521 juta transaksi, atau tumbuh 37,6 persen year on year. Pertumbuhan yang pesat ini disebabkan oleh pengembangan fitur secara terus menerus sehingga masyarakat semakin dimudahkan dalam transaksi keuangan sehingga tidak perlu lagi datang ke kantor cabang konvensional," imbuhnya.


Perluasan cakupan wilayah juga mempengaruhi pesatnya pertumbuhan transaksi finansial Agen BRILink. Saat ini Agen BRILink sudah terdapat di 51.661 desa di seluruh Indonesia, dimana hal tersebut tentunya semakin mendekatkan akses keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat. Amam menjelaskan beberapa alasan mengapa masyarakat mulai beralih bertransaksi melalui Agen BRILink dibandingkan di kantor cabang konvensional. "Yang pertama, tentunya akses atau faktor kedekatan dengan tempat tinggal berpengaruh. Di samping itu, apabila nasabah bertransaksi di Agen BRILink tidak perlu dandan atau berpakaian rapi, serta Agen BRILink mempunyai fleksibilitas dalam hal jam pelayanan dibandingkan dengan kantor cabang BRI," urai Amam.


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tidak menampik bahwa arah bisnis perseroan ke depan dimungkinkan akan lebih efisien.Saat ini BBRI sudah sangat terbantu dengan adanya agen-agen BRI (Brilink) yang tersebar hingga ke pelosok desa. Bahkan kecenderungan transaksi melalui agen Brilink terus meningkat.






Direktur Utama BBRI, Sunarso, mengatakan jumlah agen Brilink per Desember 2019 sudah mencapai sekitar 442 ribu agen. Dibandingkan tahun 2015 lalu, jumlah ini meningkat pesat karena saat itu hanya ada sekitar 75 ribu agen.

Dari sisi transaksi seperti simpan, transfer, tarik tunai dan lainnya juga meningkat drastis. Tercatat pada tahun 2015 transaksi yang terjadi melalui agen Brilink masih sangat kecil, namun kini sudah sekitar Rp673 triliun

Dengan potensi menjanjikan itu keberadaan bank-bank cabang di daerah dimungkinkan untuk dikurangi sehingga bisa menciptakan efisiensi usaha. Di saat yang sama peran dan jumlah agen Brilink akan terus digenjot karena terbukti memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi keseluruhan transaksi BRI secara nasional.

Selain mengurangi jumlah bank - bank cabang, pihaknya juga akan meningkatkan layanan kepada nasabahnya melalui digital sehingga bisa lebih mudah, murah dan aman.

"Mungkin suatu saat nanti tidak perlu cabang, dan mungkin pekerjaan di kantor akan diganti mesin. Artinya masyarakat sesungguhnya mulai nyaman bertransaksi melalui agen. Itu tanda-tanda bahwa fungsi cabang bisa bergeser ke agen," kata Sunarso dalam Kompas Talk via live streaming, Kamis (4/6/2020).

Meski arah kebijakan ke depan akan mengurangi jumlah bank cabang, namun dipastikan BBRI tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebab seluruh pekerjaan, baik yang tergantikan oleh agen Brilink atau oleh mesin, tetap membutuhkan manusia sebagai  controller  dan juga  planner .

"Lalu bagaimana pekerja kita, kita tegaskan sampai saat ini tidak ada PHK. Nanti mereka akan ditransformasi jadi  marketing  untuk bisa mengedukasi masyarakat terkait layanan banking," ujarnya.

0 comments:

Post a Comment